Keping itu…….
6 11 2006Berulangkali ku cari ke setiap sudut kamar dan sela-sela rak rapuh,….. nihil!
Kepingan harapan itu telah hilang bersama debu lantai. Meminjam aku segan tapi tangisan itu menderaku semakin keras, aku tak kuasa.
Terpekur di sudut kamar kumuh sore itu, menerawang tanpa titik, berusaha menghilangkan rasa yang terus menjerit. Hari ini kubiarkan ia menganggur tanpa sebutir beraspun untuk di giling. Biasanya, kepingan rupiah 500 itu selalu ada ketika aku cari, entah di sudut kamar sempit, di antara tumpukan baju lusuhku, atau di bawah anyaman tikar pandan tua, kepingan itu selalu menjadi penyelamat ketika derita mendera. Dengannya, sebungkus nasi kucing di pojok Janti menjadi penenang.
Lemah ku tertunduk, di sudut kamar kumuh, kuusap perutku, seperti ibu menenangkan anaknya yang menangis, sudah seharian ini tangisannya menderaku, menghiba seperti bocah kecil meminta mainan yang terus merayu.
Khayalku berusaha menentang, tapi jeritan itu tetap nyata, hari ini aku tak punya sesuatu untuk menenangkan tangisannya yang semakin keras, aku harus makan! tapi bagaimana?
Pandanganku nanar, tertumbuk pada satu kegelisahan yang tak jelas. Tumpukan koran di pojok ruang tak berhasil aku jual hari ini, entah esok,….entah lusa.
Sore semakin gelap berganti pekat Kubiarkan kantuk menyerangku, karena hanya dia yang mampu menenangkan, berharap nyenyakku sore ini berganti dengan kenyang esok hari.
“Bow…..makan pizzamu!”
Teguran kecil menyadarkanku, ditengah keramaian semu aku tersadar. Terbangun dari lelap pedihnya Jogya 7 tahun lalu.
Di tengah lalu lalang wajah-wajah palsu kutatap kepingan kuning berangka 500…
“aku rindu masa laluku……”
Comments : 2 Comments »
Categories : Dahulu Kemarin dan Saat ini


