Bocah Lusuh Berbaju Biru

10 11 2006

Semalam ditengah lelah yang memaku tubuh, kembali aku bertemu dengannya. Seorang bocah lusuh berbaju biru, tanpa lengan dan berlubang, pakaian serupa seperti yang aku lihat dua hari yang lalu, baju yang mungkin melekat di tubuhnya lebih dari seminggu.

Arus kendaraan di ruas jalan baru malam itu cukup ramai, lalu lalang bis, mobil dan motor berkejaran dengan wajah-wajah lelah dan lusuh yang terkesan acuh. Teriakan kondektur dan calo jalanan beradu dengan jerit para pedagang buah, menawarkan dagangannya yang tertata rusuh di pinggir jalan. Aku berdiri diam juga tak acuh memandang kosong ke arah bocah lusuh berbaju biru.

Bis hijau berkarat mulai perlahan bergerak, kondektur lusuh dan tua mulai ramai berteriak, beberapa wajah lelah bergegas menghampiri, malas menjejakkan kaki ke atas tangga takut tertinggal.

Ahhh…seandainya waktu mau berhenti sesaat, ingin aku terus berdiri dan menikmati bayanganku akan bocah lusuh berbaju biru, bocah yang polos dan terlantar, yang asyik bercengkrama dengan ketidakpeduliannya akan sekitar.

Bis hijau berkarat itu mulai bergerak cepat, melindas aspal hitam yang selalu menerima kodratnya untuk dilindas dan di ludahi. Aku berlari, melompat ke atas tangga bus hijau berkarat, dan mencari bangku yang kosong untukku melepas penat.

Perlahan kucoba untuk memejamkan mata, mencari cara untuk melewati waktu-waktu kosong yang melelahkan, berharap tujuan hanya selangkah saat mata terbuka. Namun tiba-tiba, sayup terdengar suara bocah parau menusuk telingaku, mengusik ketenangan yang ingin aku dapatkan dalam perjalanan yang tidak lagi tenang. Menggeliat malas, memicingkan mata, tertegun aku pada sosok yang tertangkap.

“Bocah itu lagi…..!” teriakku dalam hati.

Dengan suara parau dan gemerincing tutup botol yang terpaku pada sebilah bambu, dia menyanyikan lagu cinta. Nyanyian yang aku yakin dia sendiri tidak memahaminya. Nyanyian gombal yang hanya ada dalam legenda tua. Nyanyian yang akhirnya hanya membuat perut mual dan kepala pening.

Tapi dia terus bernyanyi, tak peduli akan apa yang terdengar, tak peduli siapa yang mau menikmati, dan juga tak peduli berapa kepala yang mendongak terbangun dari lelap karena suaranya. Satu yang ia peduli hanya fase akhir dari lagunya, ketika kertas-kertas berharga atau keping-keping harapan memenuhi plastik lusuhnya.

Bis hijau berkarat mulai melambat, di persimpangan jalan antar jurusan bocah lusuh berbaju biru itu melompat turun, dan menghilang di antara wajah-wajah lelah dan lusuh, yang menunggu harap tumpanganya lewat.

Bayangan akan bocah tadi masih tak mau hilang, tak cukup untuk menjawab rekaman pendek dari slide memoriku. Sayup-sayup kudengar suara parau Iwan Fals, mengingatkanku akan masa kecil yang sulit namun selalu kurindukan.

Anak sekecil itu berkelahi dengan waktu
Demi satu impian yang kerap ganggu tidurmu
Anak sekecil itu tak sempat nikmati waktu
Dipaksa pecahkan karang lemah jarimu terkepal





Keping itu…….

6 11 2006

Berulangkali ku cari ke setiap sudut kamar dan sela-sela rak rapuh,….. nihil!
Kepingan harapan itu telah hilang bersama debu lantai. Meminjam aku segan tapi tangisan itu menderaku semakin keras, aku tak kuasa.

Terpekur di sudut kamar kumuh sore itu, menerawang tanpa titik, berusaha menghilangkan rasa yang terus menjerit. Hari ini kubiarkan ia menganggur tanpa sebutir beraspun untuk di giling. Biasanya, kepingan rupiah 500 itu selalu ada ketika aku cari, entah di sudut kamar sempit, di antara tumpukan baju lusuhku, atau di bawah anyaman tikar pandan tua, kepingan itu selalu menjadi penyelamat ketika derita mendera. Dengannya, sebungkus nasi kucing di pojok Janti menjadi penenang.

Lemah ku tertunduk, di sudut kamar kumuh, kuusap perutku, seperti ibu menenangkan anaknya yang menangis, sudah seharian ini tangisannya menderaku, menghiba seperti bocah kecil meminta mainan yang terus merayu.

Khayalku berusaha menentang, tapi jeritan itu tetap nyata, hari ini aku tak punya sesuatu untuk menenangkan tangisannya yang semakin keras, aku harus makan! tapi bagaimana?

Pandanganku nanar, tertumbuk pada satu kegelisahan yang tak jelas. Tumpukan koran di pojok ruang tak berhasil aku jual hari ini, entah esok,….entah lusa.

Sore semakin gelap berganti pekat Kubiarkan kantuk menyerangku, karena hanya dia yang mampu menenangkan, berharap nyenyakku sore ini berganti dengan kenyang esok hari.

“Bow…..makan pizzamu!”
Teguran kecil menyadarkanku, ditengah keramaian semu aku tersadar. Terbangun dari lelap pedihnya Jogya 7 tahun lalu.

Di tengah lalu lalang wajah-wajah palsu kutatap kepingan kuning berangka 500…

“aku rindu masa laluku……”





Di Balik Tirai Kelabu

31 10 2006

Dari balik tirai pagi ini kulihat wajahmu yang sayu, memandang tanpa titik. Kosong, hampa dan hanya menyisakan tanda tanya..

Dari balik tirai itupun aku menerka apa yang ada dalam pikiranmu. Yang kalut ketika hidup tidak lagi mudah, ketika asa kembali dicoba, dan ketika tujuan perlahan menjadi sirna.

Dari balik tirai itu aku berharap, melihat senyummu yang hilang entah sejak kapan, yang redup bersama semangat dan juga usiamu.

Dari balik tirai pagi ini aku memulai langkah, mencari semua yang telah hilang dari dirimu

Ayah….semoga sore ini kan kulihat lagi senyummu, asamu dan semangatmu untuk esok……

semoga……