Kalau saja….

11 01 2007

Bulan itu masih membentuk piringan kuning terang yang indah di angkasa, bercak noda hitam yang memudar di tubuhnya tampak menggelayut manja. Cahayanya berkilau indah memendar, bahkan ketika mendung mulai menelannya perlahan, ia seakan ingin terus menerjang. Mataku tak berkedip mengaguminya, terus bertahan dari hembusan lembut angin malam yang tak henti membelai helai demi helai bulu mataku. Dalam hening malam yang menekan, sayup kudengar desau sang bayu yang bergelut dengan tepuk dedaunan, seakan memainkan berbait-bait tembang pengiring nyanyian binatang malam yang tak lagi peduli akan dingin yang menyeruak.

Aku masih terduduk dalam hening, di atas dipan bambu yang mulai rapuh, aku terus memandang sang bulan yang bergerak perlahan. Dekapan hangat tanganku menyatukan kedua kakiku melekat dalam dada, beringsut kutekan lebih dalam lagi, berusaha mengumpulkan sisa-sisa kehangatan yang mulai pudar ditelisik sang bayu.

Sekejap kualihkan pandangan menyapu sekeliling, senyap, hanya ada  keheningan yang terus menjalar…seperti hari lainnya, hanya keheningan yang merata.

Sejenak kusadari, begitu berartinya sesuatu yang pernah ada ketika ia tiada…. keberadaannya menjadi sangat berarti ketika ia pergi.

Hari ini, sekali lagi aku menyadari….dalam sadar itu sekali lagi aku berucap,…..kalau saja…





Tak akan lagi ada waktu untuk esok….

8 01 2007

Hari ini sekali lagi aku tertunduk, ketidakpedulian terhadap ruang membuat mataku terpejam, walaupun pekat membuat kalis telingaku, namun hanya itu yang aku bisa. Sekali lagi aku tertunduk. Esok entah apa, tapi hari ini harus berakhir tidak dalam hening. Kesunyian ruang ini terlalu menyiksa untuk kulalui, kesunyian yang hanya datang menekan seluruh regangan tubuhku, kesunyian yang menghitamkan jarak pandangku, dan kesunyian yang membutakan hatiku untuk melihat lebih dalam menembus kelam.

Aku tetap saja tertunduk, ketika bayangannya masih menari dalam ruang sadarku. Bayangan yang terus menjadikanku semakin hina tanpa reda, terutama ketika kesadaranku membentangkan berbagai macam ketidakmampuan. Ahh….kembali ingatanku melayang pada masa yang terbilang, ketika hanya ada dua pilihan tanpa ada penjelasan, hari ini atau tidak sama sekali, lalu diam.

Aku masih tertunduk dalam diam. Bayangan bangsaku tak lagi dapat merenda gembiraku yang beberapa menit lalu terpilin rapi, jenuhku membekukan seluruh ruang inderaku untuk dapat menggarami hidup, kehampaannya menjadikan segala yang dahulu terasa indah menjadi hambar.

Hari ini atau tidak sama sekali, hanya itu yang kuingat. walaupun aku yakin masih ada hari esok yang panjang dengan cahaya terang merata. Namun kembali hanya ada dua pilihan, bahkan ketika esok datang menghadang, kata itu akan selalu terngiang, hari ini atau tidak sama sekali.





Di Sudut Serambi Sore itu

16 11 2006

Sore ini di atas dipan bambu tua aku duduk dalam hening berteman buku-buku tua dan secangkir kopi. Entah apa yang ada dalam sel-sel otakku yang kompleks, tapi hening inilah yang menenangkan. Lelah benar-benar telah memaku seluruh jaringan ototku, jenuh telah menyekap daya pikirku, dan jengah hampir menutupi seluruh inderaku.

Seruput kecil kopi hitam mencoba menghilangkan lelahku. Dalam sedikit itu kembali kudapatkan kenikmatan dalam hangatnya. Aaah…seandainya hidup ini semudah seruput kecil itu…..

Di sudut ruang dalam remang serambi, rangkaian gambar dalam kotak tipis 21 inchi memaku pandanganku, memainkan kilatan-kilatan cahaya beradu suara, menawarkan ektase semu dalam balutan khayal yang jumud.

Lemah kutuliskan bait-bait kata dalam hening mencoba menafsikan gambar yang terlihat dengan nalar yang mulai redup

telingaku tiba-tiba memanas..
saat si renta lusuh bersuara lantang berbicara tentang hak yang hilang
berdebat tentang kehidupan yang tidak lagi layak
bertikai karena perut tak mau lagi diajak berdamai

mataku tiba-tiba memerah
ketika pandangan kontras mobil mewah mengkilat
beradu dengan laju lemah gerobak berkarat
saat gerai-gerai pemuas prestise kaum elit
hanya ada dalam khayal kaum kumuh penuh sulit

hatiku tiba-tiba merana
saat tangan tak lagi mampu meraba
saat kaki tak lagi mampu menjejak
saat akal tak lagi mampu menakar
saat yang dimiliki hanya ada dalam penjara diri………

Nalarku mulai menghilang, pena dalam dekapan jariku tak lagi melangkah……diam lalu terhenti.

Kembali kurebahkan punggungku di atas dipan bambu tua, memandang atap yang mulai rapuh. Berkhayal akan sesuatu yang semu. Suatu hari nanti……..





Di Balik Tirai Kelabu

31 10 2006

Dari balik tirai pagi ini kulihat wajahmu yang sayu, memandang tanpa titik. Kosong, hampa dan hanya menyisakan tanda tanya..

Dari balik tirai itupun aku menerka apa yang ada dalam pikiranmu. Yang kalut ketika hidup tidak lagi mudah, ketika asa kembali dicoba, dan ketika tujuan perlahan menjadi sirna.

Dari balik tirai itu aku berharap, melihat senyummu yang hilang entah sejak kapan, yang redup bersama semangat dan juga usiamu.

Dari balik tirai pagi ini aku memulai langkah, mencari semua yang telah hilang dari dirimu

Ayah….semoga sore ini kan kulihat lagi senyummu, asamu dan semangatmu untuk esok……

semoga……