Bulan itu masih membentuk piringan kuning terang yang indah di angkasa, bercak noda hitam yang memudar di tubuhnya tampak menggelayut manja. Cahayanya berkilau indah memendar, bahkan ketika mendung mulai menelannya perlahan, ia seakan ingin terus menerjang. Mataku tak berkedip mengaguminya, terus bertahan dari hembusan lembut angin malam yang tak henti membelai helai demi helai bulu mataku. Dalam hening malam yang menekan, sayup kudengar desau sang bayu yang bergelut dengan tepuk dedaunan, seakan memainkan berbait-bait tembang pengiring nyanyian binatang malam yang tak lagi peduli akan dingin yang menyeruak.
Aku masih terduduk dalam hening, di atas dipan bambu yang mulai rapuh, aku terus memandang sang bulan yang bergerak perlahan. Dekapan hangat tanganku menyatukan kedua kakiku melekat dalam dada, beringsut kutekan lebih dalam lagi, berusaha mengumpulkan sisa-sisa kehangatan yang mulai pudar ditelisik sang bayu.
Sekejap kualihkan pandangan menyapu sekeliling, senyap, hanya ada keheningan yang terus menjalar…seperti hari lainnya, hanya keheningan yang merata.
Sejenak kusadari, begitu berartinya sesuatu yang pernah ada ketika ia tiada…. keberadaannya menjadi sangat berarti ketika ia pergi.
Hari ini, sekali lagi aku menyadari….dalam sadar itu sekali lagi aku berucap,…..kalau saja…


