Rengkuh aku

2 12 2006

Ahhh……..Kembali kau campakkan aku ke sudut kumuh itu, setelah lelah aku mengantarmu, sedikitpun tak kau hiraukan aku barang sekejap, bahkan untuk sebuah ucapan terimakasih dari bibir indahmu. Tapi bodohnya, aku tetap merindumu, aku selalu berharap kau akan menghampiriku, membelaiku dengan halus tanganmu dan mengajakku ke tempat yang kau sukai. Berdua bersamamu membuatku lupa akan akhir dari perjalanan, ketika kau kembali mencampakkan dan melemparku ke sudut kumuh itu.

Ingatanku melayang saat kali pertama mengenalmu, tatapan matamu yang indah dan tajam menusuk relung hatiku, membuat aku terpana dan gila. Masih ku ingat senyummu yang manis dan lembut saat kau memandangku, dan dekapanmu yang hangat saat kau memelukku. Bak pangeran, saat itu pula kuantar kau pulang ke istanamu.

Tapi itu dulu….sebelum akhirnya aku menjadi lusuh dan berbau, kau hanya sesekali menjengukku dan lebih banyak menghiraukanku.

Di sudut kumuh ini aku terus menunggumu sendiri dalam gelap ruang yang dingin dan pengap, berharap kau datang dan kembali merengkuhku.

Di sudut kumuh ini, aku hanya berharap kau kembali mengingat saat-saat indah awal pertemuan. Di pojok toko kelontong milik Haji Marbun, saat kau memelukku di tengah pandangan sandal-sandal lainnya yang iri melihat penuh harap.





Berharap Pada Angin

23 11 2006

Piringan perak pipih berangka itu masih terus setia memberitahukanku cepatnya perpindahan waktu, senyap dan hening ketika dia berdetak. Tak jauh darinya, lembaran karton berhias huruf dan angka serupa juga selalu menghadang wajahku, ia tetap setia mengabarkanku akan hari-hari yang terus berlalu. Pikirku mulai menerawang jauh berusaha menjejak hari-hari dan waktu yang terlewati, ujungnya hanya kerinduan. Sebuah rasa yang terkadang menyiksa dan selalu menarikku untuk terus mengingat sebuah nama dan sebentuk wajah. Permataku

Belaian lembut angin kala matahari terik bersinar tetap takkan mampu menyamai hembusan sejuk nafas yang menyelimuti merdu suaranya kala tersenyum. Yang kutahu hanya itu……selebihnya aku hanya berharap inderaku lebih peka menangkap setiap keindahannya.

Habis sudah kata-kataku untuk menarik semua rasa…mengulumnya dalam jalinan kalimat indah dan mengirimnya melalui hembusan angin untuk sekedar mengatakan aku merindumu, namun dalam hening ruang persegi yang disekat tembok-tembok kekar nan angkuh aku tahu di luar sana dia merasakannya, untuk selalu merinduku ketika aku sangat merindukannya.