Ahhh……..Kembali kau campakkan aku ke sudut kumuh itu, setelah lelah aku mengantarmu, sedikitpun tak kau hiraukan aku barang sekejap, bahkan untuk sebuah ucapan terimakasih dari bibir indahmu. Tapi bodohnya, aku tetap merindumu, aku selalu berharap kau akan menghampiriku, membelaiku dengan halus tanganmu dan mengajakku ke tempat yang kau sukai. Berdua bersamamu membuatku lupa akan akhir dari perjalanan, ketika kau kembali mencampakkan dan melemparku ke sudut kumuh itu.
Ingatanku melayang saat kali pertama mengenalmu, tatapan matamu yang indah dan tajam menusuk relung hatiku, membuat aku terpana dan gila. Masih ku ingat senyummu yang manis dan lembut saat kau memandangku, dan dekapanmu yang hangat saat kau memelukku. Bak pangeran, saat itu pula kuantar kau pulang ke istanamu.
Tapi itu dulu….sebelum akhirnya aku menjadi lusuh dan berbau, kau hanya sesekali menjengukku dan lebih banyak menghiraukanku.
Di sudut kumuh ini aku terus menunggumu sendiri dalam gelap ruang yang dingin dan pengap, berharap kau datang dan kembali merengkuhku.
Di sudut kumuh ini, aku hanya berharap kau kembali mengingat saat-saat indah awal pertemuan. Di pojok toko kelontong milik Haji Marbun, saat kau memelukku di tengah pandangan sandal-sandal lainnya yang iri melihat penuh harap.


