Pagi itu, entah apa yang tiba-tiba membuatku berfikir untuk mampir kerumahmu. Sebidang tanah yang kecil dan lembab, sempit dan berdempet dengan tetangga yang seluruhnya pendiam dengan beragam karakter, namun kau sangat menyukainya, sangat lapang katamu. Dulu sebelum kau pindah ketempat itu, hampir setiap hari kamu menceritakannya. rumah impian, rumah masa depan ujarmu.
Aku hampir tertabrak kopaja saat motorku berbalik arah. Pikiranku meraba ingatan, mencari jejak jalan yang dahulu pernah aku lewati mengantarmu. Aku terbantu dengan rasa kangen yang tiba-tiba muncul saat melewati perempatan itu. Perempatan yang memisahkan jalan menuju tempatku mencari sesuap nasi dan jalan menuju rumahmu.
Sulit untuk mengingat jalan yang sudah 2 tahun tak kulewati,……2 tahun….. aku baru sadar sudah selama itu kita tidak bertemu, rasanya baru kemarin kita menghabiskan waktu di warung Brebes Pak Kasno menyantap sayur labu dan ikan kembung buatannya… ha..ha…ha.., menu kita selalu sama. sampai-sampai pak Kasno selalu menyediakan menu itu, bahkan sebelum kita sampai ke warungnya. Tapi Pak kasno sekarang sudah kembali pulang ke kampungnya, jeratan hutang dan beratnya beban hidup di Jakata membuatnya memilih untuk berladang, sebuah pilihan yang juga tidak ia yakini. Ia pernah bertanya tentangmu beberapa hari setelah kamu pindah, ia menyesal tidak bisa mengantar dan hanya menitipkan salam, salam yang baru hari ini dapat aku sampaikan.
Plang komplek warna hijau tempatmu tinggal sudah terlihat di depan, gerbangnya tidak jauh berbeda walau 2 tahun telah melewatinya. Di sinilah 2 tahun yang lalu belasan mobil dan motor mengantarmu. Beberapa diantara mereka menangis karena tak terbiasa jauh darimu, salah satunya ibumu. Ya…lama aku tak bersilaturahmi dengannya, maafkan aku kawan. Sejak kamu pindah saat itu ia tidak setegar saat kita bertiga bertemu setahun sebelumnya. Kau sangat membanggakannya, “she is my wonder woman” katamu saat pertama kali memperkenalkannya. Ya,,dia memang wanita yang tegar, tapi saat itu dia terlihat sangat rapuh, saat mengatarkanmu ke rumah barumu.
2 tahun yang lalu kau lebih banyak tersenyum, wajahmu bahagia sekali. aku tahu hari itu adalah hari yang selama bertahun-tahun kau tunggu. Kau terus tersenyum seakan beribu bidadari bersiap menyambutmu di rumah barumu.
Aku berhenti di depan warung dekat gerbang komplek, membeli sebotol air kemasan untukmu. Panas hari ini membuatku berfikir, kau akan sangat membutuhkannya.
Komplek ini tak jauh berbeda dari sebelumnya, mataku menyisir mencari bentuk rumahmu, semua rata dan sejajar. Hingga kutemukan tanda yang kuingat 2 tahun lalu. Namun tempat ini lebih rapi dari sebelumnya, pekarangan rumahmu telah ditumbuhi rumput hijau segar yang lebat, beberapa bunga sedap malam kering tergeletak berguguran di sana.
“Assalamu’alaikum, apa kabar kawan?” sapaku.
Kau hanya tersenyum, senyum yang terlihat lebih lebar dari yang kulihat dua tahun lalu, senyum yang hampir semua yang mengenalmu tahu, itu khas darimu.
“Maafkan aku kawan baru bisa menjengukmu, urusan dunia telah banyak membuatku lupa bahwa aku punya seorang sahabat yang selalu menunggu. kau tahu?! Tidak selalu kita punya waktu untuk sahabat, bahkan yang terdekat sekalipun. Beberapa sahabat hanya ada saat suka dan senang, namun menghilang saat kesulitan mendera. Mereka lenyap dengan 1001 alasan untuk menghindar. Tapi tidak denganmu kawan, kau yang banyak memberiku pelajaran tentang arti sahabat, tentang arti memberi, tentang keikhlasan, bahkan ketika kita banyak dirugikan.”
Kau tersenyum,…hatiku menangis.
“Kau ingat ketika tanpa sengaja aku menghilangkan file dokumen yang seharian kau kerjakan, sedianya file itu menjadi bahan materi seminar kuliahmu yang esok harus kau kumpulkan. Tapi kau hanya tersenyum saat aku meminta maaf, sama seperti senyummu saat ini “nggak apa akhi, insya Allah masih bisa dikerjakan ulang” jawabmu, dan kau kembali menghabiskan malam, mengurai kata yang awal pagi tadi telah kau tulis.”
“Atau ketika suatu sore menjelang magrib tanpa sengaja aku merusak spakboard depan Tiger kesayanganmu saat menghindar dari angkot yang menghadang, kau tidak sedikitpun meminta ganti rugi dan menanyakan bagaimana aku harus menggantinya. Kondisiku dan keselamatanku yang menjadi perhatianmu. Sekali lagi kau hanya tersenyum ketika aku meminta maaf telah merusak motormu. “Nggak apa akhi, yang penting antum selamat, soal itu nanti saja kalau ada rezeki,” lalu kau merangkulku mengajakku berbuka puasa. Air mataku menetes….aku terkesan, tapi juga menyesal tak sempat membalas semua kebaikanmu
Aku masih bersila di sisimu, dan kau terbaring tenang, terus tersenyum. Senyuman yang semua orang tahu itu khas darimu.
Matahari telah condong, adzan Dhuhur perlahan bersahutan, menggema dan memanggil. Tak terasa sudah 3 jam aku bersila disini, di sampingmu.
“Kau ingat kawan, dulu sering sekali kau mengetuk kaca cubicle dekat mejaku saat azan dhuhur menggema. Isyarat tanganmu memintaku berhenti bergelut dengan naskah dan mengajakku sholat berjamaah. Setiap hari…. ya setiap hari saat dhuhur tiba kau lakukan itu, seakan itu adalah tugas wajibmu terhadapku. Bahkan ketika aku sengaja menggodamu dengan pergi bersembunyi ke ruangan sebelah, kau tetap mencariku. “ana mau ngajak ente ke surga akhi” itu jawabmu saat kutanya mengapa harus bersusah untuk itu.
Zhuhur telah lama bergeser, matahari pun mulai melenggang. Keringatku telah bercampur dengan air mata yang sedari tadi terus mengalir walau kuseka.
Kuambil air mineral yang sedari tadi tergeletak disampingku, kubuka dan kusiram diatas rumput pusaramu, berharap dapat mendinginkan tanah yang menyelubungimu dan menyuburkan rumput-rumput yang menaungimu. Air ini tak ada manfaat bagimu, kesegaran air surga dan segala macam kenikmatan telah tersedia di depanmu, setetes yang kusiramkan di dunia tak akan berbanding dengan ribuan benua yang tersedia bagimu di rumahmu.
Hari ini, 2 hari sebelum hari ulang tahunmu yang kedua. Tahun kedua kelahiranmu di dunia yang lebih abadi, di dunia yang jauh dari nyeri dan luka, di dunia yang hanya ada nikmat dan suka, ceria dan gembira, dan jauh dari nestapa.
Aku harus pergi kawan. Kembali menghadapi dunia yang terkadang tak bersahabat, kembali berjuang untuk bisa lebih baik, dan kembali berjuang untuk tidak tenggelam dalam tipu dayanya.
Terima kasih atas segala kebaikanmu, terima kasih atas semua perilakumu yang tanpa kau sadari telah mengajarkanku akan banyak arti, dan maafkan segala kesalahanku.
Selamat ulang tahun kawan, selamat menikmati hasil perjuangan dan jerih payahmu, dan doakan aku yang kembali harus berjuang untuk ikhlas dan mampu menghargai. Wassalamu’alaikum kawan
dan kau melepasku dengan senyuman
(In memoriam Dichya Zoraya 23 Agustus 2006)
Pemakaman Umum Pondok Kopi



kamu membuatku menangis dengan tulisan ini Wo…
It’s a a touchy piece of writing, Wo…Coz Dicky also had touched so many hearts…I wish I could live (and die) like him..
Assalamualaikum wr wb
Aduh Bowo….membacanya membuatku hampir berlinang. Dikau memang sahabat sejati: sehidup-semati. Maafkan aku akhi Dicky, yang lupa akan hari kelahiranmu di dunia yang baru. Menjelang bulan Ramadhan yang penuh berkah, kuhaturkan maaf yang sebesar-besarnya kepada kalian berdua, atas segala kesalahan yang pernah kuperbuat. Semoga Ramadhan tahun ini laksana surga bagimu akhi Dicky, dan penuh keberkahan bagi kami yang masih hidup.
Wassalamualaikum wr wb
thanx ya wo, udh ngebantu gw mengingat dicky…
untuk dicky, maaf gw belum pernah mampir lagi sejak 2 tahun yang lalu…
tapi bukan berarti dirimu sdh terlupakan…
may you rest in peace…
The smile you gave us
The hearts you touched
Death cannot kill what never dies
Your spirit still lives on in us after you’re gone
Dicky, we will always remember you…
touching..
gile..cerita lo bagus juga..gw mpe nangis nih,tersentuh..mm..ngomong2 TPUnya deket homz gw tuh..
Aft reading this piece frm Bow, it makes my heart sink.
Although, I don’t know this man personally, named Dicky Zoraya. May Allah s.w.t bless his soul n forgive him with His Endless Mercy & grant him with Jannatul-Firdaus, Amin.
It seems like, he has touched the lives of so many people.
Still…..one day, we all shall return to HIM too.