Manusia Renta..
5 12 2006




“Dia adalah cinta pertamaku”
Masih terngiang kata-kata itu dalam ingatan, saat kubuka album biru lusuh, seakan memang tercetak dalam setiap lipatannya.
Seorang manusia renta dan biola rapuh, entah apa yang kau rasa, tapi lemah kukira, saat sendimu tak lagi kokoh menopang, tidak juga asamu saat waktu perlahan memakan separuh harimu. kau tetap tersenyum, dan itu yang khas darimu, bahkan ketika tak sekeping rupiah pun menghampiri.
Dalam remang senja yang bergelayut turun, bayanganmu meraba, lemah dan melambat. Senyum datar penuh kegetiran jelas tercetak dalam simpul bibirmu, yang pecah dan bergetar saat hari tak mau berpihak. Aku hanya terdiam saat kau sandarkan sepeda untamu di pagar rapuh. Melangkah gontai kau panggul kekasihmu ke dalam ruangan yang tak kalah kumuh. Kuingat tanyamu tentang sisa bekalku, berharap sadarku akan malumu saat perut terus menghiba. Kau tersadar hari ini kau kalah, ketika suara biolamu tidak lagi menarik iba.
Kau, partitur, dan biola tuamu, padanan indah yang terbuang, bahkan ketika alunannya menembus ruang, kau tetap terhalang dalam kesendirian.
Dalam selimut malam yang kian pekat, kau bercinta dengan mimpimu dan biola dalam dekapanmu.
Aku rindu alunan itu. Kau, pertitur dan biola tuamu



Seperti seseorang yang langkahnya tertahan di persimpangan, menghela napas, bingung memilih antara menceburkan diri ke ranah realis atau puitik. Hasilnya, ya begitu: kental nuansa kebingungan tadi
Tapi temanku ini punya rasa bahasa yang patut dipuji. Jujur, iri juga melihat kerajinannya menambah posting baru. Bravo!
iya tuh, om.
iriiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii
napakugakbisanapakugakbisanapakugakbisanapakugakbisanapakugakbisanapa
*huuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuu ihikkks*
=))