Rumah sakit ini tidak banyak berubah, masih seperti yang dulu. Ruangan-ruangan putih kumuh dengan banyak dipan berjajar tak teratur. ditambah harum menyengat racun-racun tubuh yang berbalut obat-obat penyembuh tetap menjadi ciri khas yang tak pernah hilang darinya.
Lorong-lorongnya yang panjang dan hening selalu berujung pada ruang kematian, ruangan senyap dan gelap yang hanya hidup ketika jasad tak bernyawa mengisi bilik-bilik kusamnya. Hawa panas dan pengap yang menyebar dari lorong yang kulewati ini, seakan memang telah dikondisikan sebagai pembeda fasilitas strata untuk mereka yang hanya bisa berharap sembuh dari selembar kartu hijau lusuh, GAKIN.
Perawat di belakangku terus saja terdiam, raut wajah acuh dan lelah terus melekat sejak pertama kali dia mendorong kursi roda yang kududuki. Aku yakin dia masih muda, setidaknya, umurnya tidak jauh berbeda dari adikku yang umurnya tiga tahun di bawahku. Namun gurat jenuh dan jengah yang menghiasi setiap lekuk halus wajahnya membuat ia jauh terlihat lebih tua dari umurnya. Ingin aku mengajaknya berbicara, sekedar bertanya tentang cuaca hari ini atau tentang profesinya yang mungkin terpaksa ia pilih di antara ribuan macam profesi yang tidak jelas dan sulit, tapi aku segan. Kesan ramah yang dibuat-buat sejak pertama kali aku datang ke rumah sakit ini beberapa saat lalu, tidak mampu menyembunyikan fakta bahwa ia terlihat lelah dan jenuh, aku lebih memilih diam sambil mataku terus menyapu setiap ruangan yang kulewati, berharap mendapatkan sebuah ruangan yang nyaman dan tenang untuk aku melewati masa-masa penyembuhan yang ingin segera kuakhiri.
Sebuah taman indah di tengah-tengah gedung baru saja kulewati, taman yang sederhana namun dapat menjadi pelepas jenuh pasien-pasien yang hanya bisa tertidur seharian di atas dipan yang lusuh, terbetik sedikit harap sore nanti aku dapat singgah ke taman itu, sekedar menghirup segarnya wangi dedaunan yang mungkin sudah terkontaminasi bau tak sedap obat-obat yang menyengat.
“Kita sudah sampai pak!” kata perawat itu tiba-tiba. “bapak istirahat dulu, ya… nanti saya akan persiapkan segala keperluan bapak.” kembali dia tersenyum namun aku tetap yakin itu adalah senyum yang dipaksakan.
“Makasih mbak…” jawabku, juga dengan senyum yang dipaksakan. “Mbak, maaf, nanti sore saya bisa minta diantarkan ke taman di sebelah, saya nggak ingin di ruangan terus.” pintaku sambil tersenyum. Kali ini senyum yang aku kulum adalah senyum pengharapan, berharap dia mengangguk dan mau mengantarku ke taman sebelah nanti sore.
“Bapak istirahat dulu ya, nanti sore kalau memang sudah segar, saya akan ajak bapak ke taman” jawabnya sambil tersenyum, dia lalu merapikan selimutku dan melipat kursi rodaku. “Bapak saya tinggal dulu ya.. nanti saya akan datang lagi.” kata perawat itu tiba-tiba. Sedikit terburu-buru dia segera beranjak pergi.
Ada rasa sesal yang berkecamuk dalam hatiku, aku lupa menanyakan namanya, tapi biarlah, nanti sore dia sudah berjanji untuk mengantarkanku ke taman sebelah. Mungkin saat itu aku bisa memanfaatkan waktu untuk berbicara dan mengenal dirinya.
Bersambung…………..



novel….novel…novel….where are you????!!!!