Di Sudut Serambi Sore itu
16 11 2006Sore ini di atas dipan bambu tua aku duduk dalam hening berteman buku-buku tua dan secangkir kopi. Entah apa yang ada dalam sel-sel otakku yang kompleks, tapi hening inilah yang menenangkan. Lelah benar-benar telah memaku seluruh jaringan ototku, jenuh telah menyekap daya pikirku, dan jengah hampir menutupi seluruh inderaku.
Seruput kecil kopi hitam mencoba menghilangkan lelahku. Dalam sedikit itu kembali kudapatkan kenikmatan dalam hangatnya. Aaah…seandainya hidup ini semudah seruput kecil itu…..
Di sudut ruang dalam remang serambi, rangkaian gambar dalam kotak tipis 21 inchi memaku pandanganku, memainkan kilatan-kilatan cahaya beradu suara, menawarkan ektase semu dalam balutan khayal yang jumud.
Lemah kutuliskan bait-bait kata dalam hening mencoba menafsikan gambar yang terlihat dengan nalar yang mulai redup
telingaku tiba-tiba memanas..
saat si renta lusuh bersuara lantang berbicara tentang hak yang hilang
berdebat tentang kehidupan yang tidak lagi layak
bertikai karena perut tak mau lagi diajak berdamai
mataku tiba-tiba memerah
ketika pandangan kontras mobil mewah mengkilat
beradu dengan laju lemah gerobak berkarat
saat gerai-gerai pemuas prestise kaum elit
hanya ada dalam khayal kaum kumuh penuh sulit
hatiku tiba-tiba merana
saat tangan tak lagi mampu meraba
saat kaki tak lagi mampu menjejak
saat akal tak lagi mampu menakar
saat yang dimiliki hanya ada dalam penjara diri………
Nalarku mulai menghilang, pena dalam dekapan jariku tak lagi melangkah……diam lalu terhenti.
Kembali kurebahkan punggungku di atas dipan bambu tua, memandang atap yang mulai rapuh. Berkhayal akan sesuatu yang semu. Suatu hari nanti……..



Bow, ketika kau berusaha menginspirasi manusia di ujung sana, mencerahkan mereka dengan pandangan2mu, menghasut mereka dengan sesunting dua sunting dari indahnya karyamu, aku disini sedang berusaha memahami kapitalisme–kalau itu yang kau maksud tentang yang kaya dan papa–menyelami alam batinnya, bercengkrama dengan pikiran2 kotornya, berusaha untuk tetap tertawa bersama angka2 yang hampir membunuh mata batinku.
Itu semua kulakukan hanya dengan satu harap: suatu waktu nanti aku tidak perlu mengendap-endap dalam ruang2 diskusi, celotehan yang menghambur2kan air liur, geraman2 di gelap malam,
AKU akan berusaha MEMBUNUH KAPITALISME itu di siang bolong, di tengah tatapan mata milyaran manusia !
Begitulah naifku memahami hasutan Kuntowijoyo..