Jadikan aku pasienmu…….

29 11 2006

Rumah sakit ini tidak banyak berubah, masih seperti yang dulu. Ruangan-ruangan putih kumuh dengan banyak dipan berjajar tak teratur. ditambah harum menyengat racun-racun tubuh yang berbalut obat-obat penyembuh tetap menjadi ciri khas yang tak pernah hilang darinya.

Lorong-lorongnya yang panjang dan hening selalu berujung pada ruang kematian, ruangan senyap dan gelap yang hanya hidup ketika jasad tak bernyawa mengisi bilik-bilik kusamnya. Hawa panas dan pengap yang menyebar dari lorong yang kulewati ini, seakan memang telah dikondisikan sebagai pembeda fasilitas strata untuk mereka yang hanya bisa berharap sembuh dari selembar kartu hijau lusuh, GAKIN.

Perawat di belakangku terus saja terdiam, raut wajah acuh dan lelah terus melekat sejak pertama kali dia mendorong kursi roda yang kududuki. Aku yakin dia masih muda, setidaknya, umurnya tidak jauh berbeda dari adikku yang umurnya tiga tahun di bawahku. Namun gurat jenuh dan jengah yang menghiasi setiap lekuk halus wajahnya membuat ia jauh terlihat lebih tua dari umurnya. Ingin aku mengajaknya berbicara, sekedar bertanya tentang cuaca hari ini atau tentang profesinya yang mungkin terpaksa ia pilih di antara ribuan macam profesi yang tidak jelas dan sulit, tapi aku segan. Kesan ramah yang dibuat-buat sejak pertama kali aku datang ke rumah sakit ini beberapa saat lalu, tidak mampu menyembunyikan fakta bahwa ia terlihat lelah dan jenuh, aku lebih memilih diam sambil mataku terus menyapu setiap ruangan yang kulewati, berharap mendapatkan sebuah ruangan yang nyaman dan tenang untuk aku melewati masa-masa penyembuhan yang ingin segera kuakhiri.

Sebuah taman indah di tengah-tengah gedung baru saja kulewati, taman yang sederhana namun dapat menjadi pelepas jenuh pasien-pasien yang hanya bisa tertidur seharian di atas dipan yang lusuh, terbetik sedikit harap sore nanti aku dapat singgah ke taman itu, sekedar menghirup segarnya wangi dedaunan yang mungkin sudah terkontaminasi bau tak sedap obat-obat yang menyengat.

“Kita sudah sampai pak!” kata perawat itu tiba-tiba. “bapak istirahat dulu, ya… nanti saya akan persiapkan segala keperluan bapak.” kembali dia tersenyum namun aku tetap yakin itu adalah senyum yang dipaksakan.

“Makasih mbak…” jawabku, juga dengan senyum yang dipaksakan. “Mbak, maaf, nanti sore saya bisa minta diantarkan ke taman di sebelah, saya nggak ingin di ruangan terus.” pintaku sambil tersenyum. Kali ini senyum yang aku kulum adalah senyum pengharapan, berharap dia mengangguk dan mau mengantarku ke taman sebelah nanti sore.

“Bapak istirahat dulu ya, nanti sore kalau memang sudah segar, saya akan ajak bapak ke taman” jawabnya sambil tersenyum, dia lalu merapikan selimutku dan melipat kursi rodaku. “Bapak saya tinggal dulu ya.. nanti saya akan datang lagi.” kata perawat itu tiba-tiba. Sedikit terburu-buru dia segera beranjak pergi.

Ada rasa sesal yang berkecamuk dalam hatiku, aku lupa menanyakan namanya, tapi biarlah, nanti sore dia sudah berjanji untuk mengantarkanku ke taman sebelah. Mungkin saat itu aku bisa memanfaatkan waktu untuk berbicara dan mengenal dirinya.

Bersambung…………..





Berharap Pada Angin

23 11 2006

Piringan perak pipih berangka itu masih terus setia memberitahukanku cepatnya perpindahan waktu, senyap dan hening ketika dia berdetak. Tak jauh darinya, lembaran karton berhias huruf dan angka serupa juga selalu menghadang wajahku, ia tetap setia mengabarkanku akan hari-hari yang terus berlalu. Pikirku mulai menerawang jauh berusaha menjejak hari-hari dan waktu yang terlewati, ujungnya hanya kerinduan. Sebuah rasa yang terkadang menyiksa dan selalu menarikku untuk terus mengingat sebuah nama dan sebentuk wajah. Permataku

Belaian lembut angin kala matahari terik bersinar tetap takkan mampu menyamai hembusan sejuk nafas yang menyelimuti merdu suaranya kala tersenyum. Yang kutahu hanya itu……selebihnya aku hanya berharap inderaku lebih peka menangkap setiap keindahannya.

Habis sudah kata-kataku untuk menarik semua rasa…mengulumnya dalam jalinan kalimat indah dan mengirimnya melalui hembusan angin untuk sekedar mengatakan aku merindumu, namun dalam hening ruang persegi yang disekat tembok-tembok kekar nan angkuh aku tahu di luar sana dia merasakannya, untuk selalu merinduku ketika aku sangat merindukannya.





Di Sudut Serambi Sore itu

16 11 2006

Sore ini di atas dipan bambu tua aku duduk dalam hening berteman buku-buku tua dan secangkir kopi. Entah apa yang ada dalam sel-sel otakku yang kompleks, tapi hening inilah yang menenangkan. Lelah benar-benar telah memaku seluruh jaringan ototku, jenuh telah menyekap daya pikirku, dan jengah hampir menutupi seluruh inderaku.

Seruput kecil kopi hitam mencoba menghilangkan lelahku. Dalam sedikit itu kembali kudapatkan kenikmatan dalam hangatnya. Aaah…seandainya hidup ini semudah seruput kecil itu…..

Di sudut ruang dalam remang serambi, rangkaian gambar dalam kotak tipis 21 inchi memaku pandanganku, memainkan kilatan-kilatan cahaya beradu suara, menawarkan ektase semu dalam balutan khayal yang jumud.

Lemah kutuliskan bait-bait kata dalam hening mencoba menafsikan gambar yang terlihat dengan nalar yang mulai redup

telingaku tiba-tiba memanas..
saat si renta lusuh bersuara lantang berbicara tentang hak yang hilang
berdebat tentang kehidupan yang tidak lagi layak
bertikai karena perut tak mau lagi diajak berdamai

mataku tiba-tiba memerah
ketika pandangan kontras mobil mewah mengkilat
beradu dengan laju lemah gerobak berkarat
saat gerai-gerai pemuas prestise kaum elit
hanya ada dalam khayal kaum kumuh penuh sulit

hatiku tiba-tiba merana
saat tangan tak lagi mampu meraba
saat kaki tak lagi mampu menjejak
saat akal tak lagi mampu menakar
saat yang dimiliki hanya ada dalam penjara diri………

Nalarku mulai menghilang, pena dalam dekapan jariku tak lagi melangkah……diam lalu terhenti.

Kembali kurebahkan punggungku di atas dipan bambu tua, memandang atap yang mulai rapuh. Berkhayal akan sesuatu yang semu. Suatu hari nanti……..





Bocah Lusuh Berbaju Biru

10 11 2006

Semalam ditengah lelah yang memaku tubuh, kembali aku bertemu dengannya. Seorang bocah lusuh berbaju biru, tanpa lengan dan berlubang, pakaian serupa seperti yang aku lihat dua hari yang lalu, baju yang mungkin melekat di tubuhnya lebih dari seminggu.

Arus kendaraan di ruas jalan baru malam itu cukup ramai, lalu lalang bis, mobil dan motor berkejaran dengan wajah-wajah lelah dan lusuh yang terkesan acuh. Teriakan kondektur dan calo jalanan beradu dengan jerit para pedagang buah, menawarkan dagangannya yang tertata rusuh di pinggir jalan. Aku berdiri diam juga tak acuh memandang kosong ke arah bocah lusuh berbaju biru.

Bis hijau berkarat mulai perlahan bergerak, kondektur lusuh dan tua mulai ramai berteriak, beberapa wajah lelah bergegas menghampiri, malas menjejakkan kaki ke atas tangga takut tertinggal.

Ahhh…seandainya waktu mau berhenti sesaat, ingin aku terus berdiri dan menikmati bayanganku akan bocah lusuh berbaju biru, bocah yang polos dan terlantar, yang asyik bercengkrama dengan ketidakpeduliannya akan sekitar.

Bis hijau berkarat itu mulai bergerak cepat, melindas aspal hitam yang selalu menerima kodratnya untuk dilindas dan di ludahi. Aku berlari, melompat ke atas tangga bus hijau berkarat, dan mencari bangku yang kosong untukku melepas penat.

Perlahan kucoba untuk memejamkan mata, mencari cara untuk melewati waktu-waktu kosong yang melelahkan, berharap tujuan hanya selangkah saat mata terbuka. Namun tiba-tiba, sayup terdengar suara bocah parau menusuk telingaku, mengusik ketenangan yang ingin aku dapatkan dalam perjalanan yang tidak lagi tenang. Menggeliat malas, memicingkan mata, tertegun aku pada sosok yang tertangkap.

“Bocah itu lagi…..!” teriakku dalam hati.

Dengan suara parau dan gemerincing tutup botol yang terpaku pada sebilah bambu, dia menyanyikan lagu cinta. Nyanyian yang aku yakin dia sendiri tidak memahaminya. Nyanyian gombal yang hanya ada dalam legenda tua. Nyanyian yang akhirnya hanya membuat perut mual dan kepala pening.

Tapi dia terus bernyanyi, tak peduli akan apa yang terdengar, tak peduli siapa yang mau menikmati, dan juga tak peduli berapa kepala yang mendongak terbangun dari lelap karena suaranya. Satu yang ia peduli hanya fase akhir dari lagunya, ketika kertas-kertas berharga atau keping-keping harapan memenuhi plastik lusuhnya.

Bis hijau berkarat mulai melambat, di persimpangan jalan antar jurusan bocah lusuh berbaju biru itu melompat turun, dan menghilang di antara wajah-wajah lelah dan lusuh, yang menunggu harap tumpanganya lewat.

Bayangan akan bocah tadi masih tak mau hilang, tak cukup untuk menjawab rekaman pendek dari slide memoriku. Sayup-sayup kudengar suara parau Iwan Fals, mengingatkanku akan masa kecil yang sulit namun selalu kurindukan.

Anak sekecil itu berkelahi dengan waktu
Demi satu impian yang kerap ganggu tidurmu
Anak sekecil itu tak sempat nikmati waktu
Dipaksa pecahkan karang lemah jarimu terkepal





Keping itu…….

6 11 2006

Berulangkali ku cari ke setiap sudut kamar dan sela-sela rak rapuh,….. nihil!
Kepingan harapan itu telah hilang bersama debu lantai. Meminjam aku segan tapi tangisan itu menderaku semakin keras, aku tak kuasa.

Terpekur di sudut kamar kumuh sore itu, menerawang tanpa titik, berusaha menghilangkan rasa yang terus menjerit. Hari ini kubiarkan ia menganggur tanpa sebutir beraspun untuk di giling. Biasanya, kepingan rupiah 500 itu selalu ada ketika aku cari, entah di sudut kamar sempit, di antara tumpukan baju lusuhku, atau di bawah anyaman tikar pandan tua, kepingan itu selalu menjadi penyelamat ketika derita mendera. Dengannya, sebungkus nasi kucing di pojok Janti menjadi penenang.

Lemah ku tertunduk, di sudut kamar kumuh, kuusap perutku, seperti ibu menenangkan anaknya yang menangis, sudah seharian ini tangisannya menderaku, menghiba seperti bocah kecil meminta mainan yang terus merayu.

Khayalku berusaha menentang, tapi jeritan itu tetap nyata, hari ini aku tak punya sesuatu untuk menenangkan tangisannya yang semakin keras, aku harus makan! tapi bagaimana?

Pandanganku nanar, tertumbuk pada satu kegelisahan yang tak jelas. Tumpukan koran di pojok ruang tak berhasil aku jual hari ini, entah esok,….entah lusa.

Sore semakin gelap berganti pekat Kubiarkan kantuk menyerangku, karena hanya dia yang mampu menenangkan, berharap nyenyakku sore ini berganti dengan kenyang esok hari.

“Bow…..makan pizzamu!”
Teguran kecil menyadarkanku, ditengah keramaian semu aku tersadar. Terbangun dari lelap pedihnya Jogya 7 tahun lalu.

Di tengah lalu lalang wajah-wajah palsu kutatap kepingan kuning berangka 500…

“aku rindu masa laluku……”