Dingin memang selalu begitu…

30 01 2007

Dingin memang selalu begitu

Kebenciannya tak akan pernah pudar pada mereka yang hangat bahkan ketika kau telah berbaik padanya, kerinduannya melihat mereka yang menggigil selalu memperkuat rasanya. Dia akan selalu datang ketika pelindungmu  menghilang, bahkan berusaha menyelinap dalam kehangatan yang tak pernah henti kau dekap. Semilirnya selalu memabukkan, bahkan untuk mereka yang berniat mengacuhkan, namun kerinduan akan belaiannya selalu datang ketika hangat tidak lagi bersahabat.

Dingin memang selalu begitu.

(Cairo dibawah 5* C)




Kalau saja….

11 01 2007

Bulan itu masih membentuk piringan kuning terang yang indah di angkasa, bercak noda hitam yang memudar di tubuhnya tampak menggelayut manja. Cahayanya berkilau indah memendar, bahkan ketika mendung mulai menelannya perlahan, ia seakan ingin terus menerjang. Mataku tak berkedip mengaguminya, terus bertahan dari hembusan lembut angin malam yang tak henti membelai helai demi helai bulu mataku. Dalam hening malam yang menekan, sayup kudengar desau sang bayu yang bergelut dengan tepuk dedaunan, seakan memainkan berbait-bait tembang pengiring nyanyian binatang malam yang tak lagi peduli akan dingin yang menyeruak.

Aku masih terduduk dalam hening, di atas dipan bambu yang mulai rapuh, aku terus memandang sang bulan yang bergerak perlahan. Dekapan hangat tanganku menyatukan kedua kakiku melekat dalam dada, beringsut kutekan lebih dalam lagi, berusaha mengumpulkan sisa-sisa kehangatan yang mulai pudar ditelisik sang bayu.

Sekejap kualihkan pandangan menyapu sekeliling, senyap, hanya ada  keheningan yang terus menjalar…seperti hari lainnya, hanya keheningan yang merata.

Sejenak kusadari, begitu berartinya sesuatu yang pernah ada ketika ia tiada…. keberadaannya menjadi sangat berarti ketika ia pergi.

Hari ini, sekali lagi aku menyadari….dalam sadar itu sekali lagi aku berucap,…..kalau saja…




Tak akan lagi ada waktu untuk esok….

8 01 2007

Hari ini sekali lagi aku tertunduk, ketidakpedulian terhadap ruang membuat mataku terpejam, walaupun pekat membuat kalis telingaku, namun hanya itu yang aku bisa. Sekali lagi aku tertunduk. Esok entah apa, tapi hari ini harus berakhir tidak dalam hening. Kesunyian ruang ini terlalu menyiksa untuk kulalui, kesunyian yang hanya datang menekan seluruh regangan tubuhku, kesunyian yang menghitamkan jarak pandangku, dan kesunyian yang membutakan hatiku untuk melihat lebih dalam menembus kelam.

Aku tetap saja tertunduk, ketika bayangannya masih menari dalam ruang sadarku. Bayangan yang terus menjadikanku semakin hina tanpa reda, terutama ketika kesadaranku membentangkan berbagai macam ketidakmampuan. Ahh….kembali ingatanku melayang pada masa yang terbilang, ketika hanya ada dua pilihan tanpa ada penjelasan, hari ini atau tidak sama sekali, lalu diam.

Aku masih tertunduk dalam diam. Bayangan bangsaku tak lagi dapat merenda gembiraku yang beberapa menit lalu terpilin rapi, jenuhku membekukan seluruh ruang inderaku untuk dapat menggarami hidup, kehampaannya menjadikan segala yang dahulu terasa indah menjadi hambar.

Hari ini atau tidak sama sekali, hanya itu yang kuingat. walaupun aku yakin masih ada hari esok yang panjang dengan cahaya terang merata. Namun kembali hanya ada dua pilihan, bahkan ketika esok datang menghadang, kata itu akan selalu terngiang, hari ini atau tidak sama sekali.




Despereert Niet…..*

11 12 2006

Tumpukan babad dan serat itu masih basah oleh keringat dan tangisku, lipatannya masih hangat saat jariku menjamah. Tak jauh darinya bertumpuk kertas-kertas lusuh terbuang, sisa sejarah beberapa menit lalu yang akan selalu teronggok di sudut itu. Seperti yang lainnya, ia tak akan pernah lagi terjamah

Aku lelah, habis sudah kulalap Brandes dan Rafles, tapi tetap tak mampu memuaskan dahagaku akan masa kelam bangsa ini, berjuta de Graaf dan Pigeaud membantu untuk bangkit, namun akan selalu muncul Hurgronje baru yang dengan dalih pengetahuan menginjak-injak rumput hijau keawaman. Bahkan ketika J. Pieterszoon Coen muncul dengan topeng serigalanya, tak satu pun Unus bangkit untuk melawan, tidak juga aku….

Aku masih saja membisu, bersandar pada kehampaan aku tertatih, percuma teriakan londomu menyemangatiku “dapper in het gevaar!!” sedangkan kau terus mencambukiku. Dalam pedihku masih saja kudengar kau berseru menghibur dengan senyum sinismu yang menusuk, “Historia docet!”

Dihadapanku masih terbentang Babad Meinsma, De java Oorlog, dan beberapa jilid Suma Oriental, seluruhnya terus membisu. Kebisuan yang mendayu kombinasi Pararaton dan Nagarakertagama hingga membuatku tak mampu bersuara.

Aku lelah, jiwaku letih, harapanku akan akhir mulai pudar. Namun, ketika cahaya putih itu mulai muncul, kau membelaiku, di sela-sela kelembutan belaianmu lemah kau berucap”in het heden ligt het verleden, in het nu wat komen zal”

Ahh….indah sekali kata itu, semangatku kembali terbakar, “Je maintiendrai-ik zal handhaven” , aku akan terus berjalan hingga akhir ku capai. “Despereert Niet, daer can in indien wat groots verricht!”

 

 

* Jangan Berputus Asa

Tulisan ini berhasil ditemukan di antara lipatan-lipatan buku kucel dan lusuh yang akan dibakar, ditulis saat sedang berusaha menyelesaikan skripsi tentang sejarah Kerajaan Islam di Jawa 




Manusia Renta..

5 12 2006

“Dia adalah cinta pertamaku”

Masih terngiang kata-kata itu dalam ingatan, saat kubuka album biru lusuh, seakan memang tercetak dalam setiap lipatannya.

Seorang manusia renta dan biola rapuh, entah apa yang kau rasa, tapi lemah kukira, saat sendimu tak lagi kokoh menopang, tidak juga asamu saat waktu perlahan memakan separuh harimu. kau tetap tersenyum, dan itu yang khas darimu, bahkan ketika tak sekeping rupiah pun menghampiri.

Dalam remang senja yang bergelayut turun, bayanganmu meraba, lemah dan melambat. Senyum datar penuh kegetiran jelas tercetak dalam simpul bibirmu, yang pecah dan bergetar saat hari tak mau berpihak. Aku hanya terdiam saat kau sandarkan sepeda untamu di pagar rapuh. Melangkah gontai kau panggul kekasihmu ke dalam ruangan yang tak kalah kumuh. Kuingat tanyamu tentang sisa bekalku, berharap sadarku akan malumu saat perut terus menghiba.  Kau tersadar hari ini kau kalah, ketika suara biolamu tidak lagi menarik iba.

Kau, partitur, dan biola tuamu, padanan indah yang terbuang, bahkan ketika alunannya menembus ruang, kau tetap terhalang dalam kesendirian.

Dalam selimut malam yang kian pekat, kau bercinta dengan mimpimu dan biola dalam dekapanmu.

Aku rindu alunan itu. Kau, pertitur dan biola tuamu




Rengkuh aku

2 12 2006

Ahhh……..Kembali kau campakkan aku ke sudut kumuh itu, setelah lelah aku mengantarmu, sedikitpun tak kau hiraukan aku barang sekejap, bahkan untuk sebuah ucapan terimakasih dari bibir indahmu. Tapi bodohnya, aku tetap merindumu, aku selalu berharap kau akan menghampiriku, membelaiku dengan halus tanganmu dan mengajakku ke tempat yang kau sukai. Berdua bersamamu membuatku lupa akan akhir dari perjalanan, ketika kau kembali mencampakkan dan melemparku ke sudut kumuh itu.

Ingatanku melayang saat kali pertama mengenalmu, tatapan matamu yang indah dan tajam menusuk relung hatiku, membuat aku terpana dan gila. Masih ku ingat senyummu yang manis dan lembut saat kau memandangku, dan dekapanmu yang hangat saat kau memelukku. Bak pangeran, saat itu pula kuantar kau pulang ke istanamu.

Tapi itu dulu….sebelum akhirnya aku menjadi lusuh dan berbau, kau hanya sesekali menjengukku dan lebih banyak menghiraukanku.

Di sudut kumuh ini aku terus menunggumu sendiri dalam gelap ruang yang dingin dan pengap, berharap kau datang dan kembali merengkuhku.

Di sudut kumuh ini, aku hanya berharap kau kembali mengingat saat-saat indah awal pertemuan. Di pojok toko kelontong milik Haji Marbun, saat kau memelukku di tengah pandangan sandal-sandal lainnya yang iri melihat penuh harap.




Jadikan aku pasienmu…….

29 11 2006

Rumah sakit ini tidak banyak berubah, masih seperti yang dulu. Ruangan-ruangan putih kumuh dengan banyak dipan berjajar tak teratur. ditambah harum menyengat racun-racun tubuh yang berbalut obat-obat penyembuh tetap menjadi ciri khas yang tak pernah hilang darinya.

Lorong-lorongnya yang panjang dan hening selalu berujung pada ruang kematian, ruangan senyap dan gelap yang hanya hidup ketika jasad tak bernyawa mengisi bilik-bilik kusamnya. Hawa panas dan pengap yang menyebar dari lorong yang kulewati ini, seakan memang telah dikondisikan sebagai pembeda fasilitas strata untuk mereka yang hanya bisa berharap sembuh dari selembar kartu hijau lusuh, GAKIN.

Perawat di belakangku terus saja terdiam, raut wajah acuh dan lelah terus melekat sejak pertama kali dia mendorong kursi roda yang kududuki. Aku yakin dia masih muda, setidaknya, umurnya tidak jauh berbeda dari adikku yang umurnya tiga tahun di bawahku. Namun gurat jenuh dan jengah yang menghiasi setiap lekuk halus wajahnya membuat ia jauh terlihat lebih tua dari umurnya. Ingin aku mengajaknya berbicara, sekedar bertanya tentang cuaca hari ini atau tentang profesinya yang mungkin terpaksa ia pilih di antara ribuan macam profesi yang tidak jelas dan sulit, tapi aku segan. Kesan ramah yang dibuat-buat sejak pertama kali aku datang ke rumah sakit ini beberapa saat lalu, tidak mampu menyembunyikan fakta bahwa ia terlihat lelah dan jenuh, aku lebih memilih diam sambil mataku terus menyapu setiap ruangan yang kulewati, berharap mendapatkan sebuah ruangan yang nyaman dan tenang untuk aku melewati masa-masa penyembuhan yang ingin segera kuakhiri.

Sebuah taman indah di tengah-tengah gedung baru saja kulewati, taman yang sederhana namun dapat menjadi pelepas jenuh pasien-pasien yang hanya bisa tertidur seharian di atas dipan yang lusuh, terbetik sedikit harap sore nanti aku dapat singgah ke taman itu, sekedar menghirup segarnya wangi dedaunan yang mungkin sudah terkontaminasi bau tak sedap obat-obat yang menyengat.

“Kita sudah sampai pak!” kata perawat itu tiba-tiba. “bapak istirahat dulu, ya… nanti saya akan persiapkan segala keperluan bapak.” kembali dia tersenyum namun aku tetap yakin itu adalah senyum yang dipaksakan.

“Makasih mbak…” jawabku, juga dengan senyum yang dipaksakan. “Mbak, maaf, nanti sore saya bisa minta diantarkan ke taman di sebelah, saya nggak ingin di ruangan terus.” pintaku sambil tersenyum. Kali ini senyum yang aku kulum adalah senyum pengharapan, berharap dia mengangguk dan mau mengantarku ke taman sebelah nanti sore.

“Bapak istirahat dulu ya, nanti sore kalau memang sudah segar, saya akan ajak bapak ke taman” jawabnya sambil tersenyum, dia lalu merapikan selimutku dan melipat kursi rodaku. “Bapak saya tinggal dulu ya.. nanti saya akan datang lagi.” kata perawat itu tiba-tiba. Sedikit terburu-buru dia segera beranjak pergi.

Ada rasa sesal yang berkecamuk dalam hatiku, aku lupa menanyakan namanya, tapi biarlah, nanti sore dia sudah berjanji untuk mengantarkanku ke taman sebelah. Mungkin saat itu aku bisa memanfaatkan waktu untuk berbicara dan mengenal dirinya.

Bersambung…………..




Berharap Pada Angin

23 11 2006

Piringan perak pipih berangka itu masih terus setia memberitahukanku cepatnya perpindahan waktu, senyap dan hening ketika dia berdetak. Tak jauh darinya, lembaran karton berhias huruf dan angka serupa juga selalu menghadang wajahku, ia tetap setia mengabarkanku akan hari-hari yang terus berlalu. Pikirku mulai menerawang jauh berusaha menjejak hari-hari dan waktu yang terlewati, ujungnya hanya kerinduan. Sebuah rasa yang terkadang menyiksa dan selalu menarikku untuk terus mengingat sebuah nama dan sebentuk wajah. Permataku

Belaian lembut angin kala matahari terik bersinar tetap takkan mampu menyamai hembusan sejuk nafas yang menyelimuti merdu suaranya kala tersenyum. Yang kutahu hanya itu……selebihnya aku hanya berharap inderaku lebih peka menangkap setiap keindahannya.

Habis sudah kata-kataku untuk menarik semua rasa…mengulumnya dalam jalinan kalimat indah dan mengirimnya melalui hembusan angin untuk sekedar mengatakan aku merindumu, namun dalam hening ruang persegi yang disekat tembok-tembok kekar nan angkuh aku tahu di luar sana dia merasakannya, untuk selalu merinduku ketika aku sangat merindukannya.




Di Sudut Serambi Sore itu

16 11 2006

Sore ini di atas dipan bambu tua aku duduk dalam hening berteman buku-buku tua dan secangkir kopi. Entah apa yang ada dalam sel-sel otakku yang kompleks, tapi hening inilah yang menenangkan. Lelah benar-benar telah memaku seluruh jaringan ototku, jenuh telah menyekap daya pikirku, dan jengah hampir menutupi seluruh inderaku.

Seruput kecil kopi hitam mencoba menghilangkan lelahku. Dalam sedikit itu kembali kudapatkan kenikmatan dalam hangatnya. Aaah…seandainya hidup ini semudah seruput kecil itu…..

Di sudut ruang dalam remang serambi, rangkaian gambar dalam kotak tipis 21 inchi memaku pandanganku, memainkan kilatan-kilatan cahaya beradu suara, menawarkan ektase semu dalam balutan khayal yang jumud.

Lemah kutuliskan bait-bait kata dalam hening mencoba menafsikan gambar yang terlihat dengan nalar yang mulai redup

telingaku tiba-tiba memanas..
saat si renta lusuh bersuara lantang berbicara tentang hak yang hilang
berdebat tentang kehidupan yang tidak lagi layak
bertikai karena perut tak mau lagi diajak berdamai

mataku tiba-tiba memerah
ketika pandangan kontras mobil mewah mengkilat
beradu dengan laju lemah gerobak berkarat
saat gerai-gerai pemuas prestise kaum elit
hanya ada dalam khayal kaum kumuh penuh sulit

hatiku tiba-tiba merana
saat tangan tak lagi mampu meraba
saat kaki tak lagi mampu menjejak
saat akal tak lagi mampu menakar
saat yang dimiliki hanya ada dalam penjara diri………

Nalarku mulai menghilang, pena dalam dekapan jariku tak lagi melangkah……diam lalu terhenti.

Kembali kurebahkan punggungku di atas dipan bambu tua, memandang atap yang mulai rapuh. Berkhayal akan sesuatu yang semu. Suatu hari nanti……..




Bocah Lusuh Berbaju Biru

10 11 2006

Semalam ditengah lelah yang memaku tubuh, kembali aku bertemu dengannya. Seorang bocah lusuh berbaju biru, tanpa lengan dan berlubang, pakaian serupa seperti yang aku lihat dua hari yang lalu, baju yang mungkin melekat di tubuhnya lebih dari seminggu.

Arus kendaraan di ruas jalan baru malam itu cukup ramai, lalu lalang bis, mobil dan motor berkejaran dengan wajah-wajah lelah dan lusuh yang terkesan acuh. Teriakan kondektur dan calo jalanan beradu dengan jerit para pedagang buah, menawarkan dagangannya yang tertata rusuh di pinggir jalan. Aku berdiri diam juga tak acuh memandang kosong ke arah bocah lusuh berbaju biru.

Bis hijau berkarat mulai perlahan bergerak, kondektur lusuh dan tua mulai ramai berteriak, beberapa wajah lelah bergegas menghampiri, malas menjejakkan kaki ke atas tangga takut tertinggal.

Ahhh…seandainya waktu mau berhenti sesaat, ingin aku terus berdiri dan menikmati bayanganku akan bocah lusuh berbaju biru, bocah yang polos dan terlantar, yang asyik bercengkrama dengan ketidakpeduliannya akan sekitar.

Bis hijau berkarat itu mulai bergerak cepat, melindas aspal hitam yang selalu menerima kodratnya untuk dilindas dan di ludahi. Aku berlari, melompat ke atas tangga bus hijau berkarat, dan mencari bangku yang kosong untukku melepas penat.

Perlahan kucoba untuk memejamkan mata, mencari cara untuk melewati waktu-waktu kosong yang melelahkan, berharap tujuan hanya selangkah saat mata terbuka. Namun tiba-tiba, sayup terdengar suara bocah parau menusuk telingaku, mengusik ketenangan yang ingin aku dapatkan dalam perjalanan yang tidak lagi tenang. Menggeliat malas, memicingkan mata, tertegun aku pada sosok yang tertangkap.

“Bocah itu lagi…..!” teriakku dalam hati.

Dengan suara parau dan gemerincing tutup botol yang terpaku pada sebilah bambu, dia menyanyikan lagu cinta. Nyanyian yang aku yakin dia sendiri tidak memahaminya. Nyanyian gombal yang hanya ada dalam legenda tua. Nyanyian yang akhirnya hanya membuat perut mual dan kepala pening.

Tapi dia terus bernyanyi, tak peduli akan apa yang terdengar, tak peduli siapa yang mau menikmati, dan juga tak peduli berapa kepala yang mendongak terbangun dari lelap karena suaranya. Satu yang ia peduli hanya fase akhir dari lagunya, ketika kertas-kertas berharga atau keping-keping harapan memenuhi plastik lusuhnya.

Bis hijau berkarat mulai melambat, di persimpangan jalan antar jurusan bocah lusuh berbaju biru itu melompat turun, dan menghilang di antara wajah-wajah lelah dan lusuh, yang menunggu harap tumpanganya lewat.

Bayangan akan bocah tadi masih tak mau hilang, tak cukup untuk menjawab rekaman pendek dari slide memoriku. Sayup-sayup kudengar suara parau Iwan Fals, mengingatkanku akan masa kecil yang sulit namun selalu kurindukan.

Anak sekecil itu berkelahi dengan waktu
Demi satu impian yang kerap ganggu tidurmu
Anak sekecil itu tak sempat nikmati waktu
Dipaksa pecahkan karang lemah jarimu terkepal